photo panlogo.png
Home Activity Kerugian Banjir Rp 3 Triliun

BANJIR dan kemacetan arus lalu lintas di Jakarta pada Senin (25/10) malam diperkirakan menimbulkan pontensi kerugian hingga Rp 3 triliun. Pemprov DKI diharapkan serius menangani banjir dan kemacetan karena akan berdampak terhadap perekonomian.

Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Iqbal Farabi, di Jakarta hari Selasa (26/10) mengatakan, menurut perhitungan pihaknya, banjir dan kemacetan lalu lintas dalam 5-7 hari terakhir berpotensi menimbulkan kerugian Rp 2 hingga Rp 3 triliun.

Perhitungan potensi kerugian itu, kata Iqbal, mencakup borosnya penggunaan bahan bakar minyak (BBM) hingga kerusakan jalan dan infrastruktur transportasi lainnya. “Akibat banjir lokal tersebut sekitar 20-25 persen jalan dan infrastruktur lalu lintas lainnya rusak,” ujar calon Ketua Umum Hipmi mendatang ini.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengatakan bahwa sebagai warga DKI Jakarta dia sangat merasakan dampak banjir lokal dan kemacetan lalu lintas pada Senin malam itu. Persoalan hujan yang diikuti banjir dan kemacetan seperti itu, kata Priyo, merupakan permasalahan menahun yang seharusnya bisa diselesaikan oleh Gubernur Fauzi Bowo.

“Senin malam saya betul-betul sedih karena Jakarta lumpuh. Ini masalah menahun dan membuat saya bertanya, apa yang menjadi agenda utama gebernur selama ini?” ujarnya di gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, kemarin.

Menurut Priyo, sebagai birokrat berpengalaman Fauzi diharapkan bisa mencari solusi untuk menuntaskan permasalahan banjir dan kemacetan lalu lintas di Jakarta.

Priyo berkisah, Senin malam lalu dia terjebak kemacetan selama 2,5 jam di jalan tol dalam kota saat menuju rumahnya di kawasan Tanjungbarat, Jakarta Selatan. “Gubernur harus menggunakan otoritas yang ada dan jangan melihat keadaan seperti ini sebagai kondisi yang biasa,” kata politisi Partai Golkar ini.

Kritikan memang terus mengalir atas kinerja Pemprov DKI di bawah kendali Gubernur Fauzi Bowo. Anggota DPR dari Fraksi PAN, Teguh Juwarno, misalnya, mengatakan, aksi nyata pemprov untuk mengatasi sumber permasalahan yang menimbulkan banjir dan kemacetan lalu lintas saat hujan tiba selama ini tidak terlihat.

“Kalau bicara konteks ekologis dan lingkungan, Jakarta sudah parah. Banjir Senin malam memang dalam hitungan jam surut, tapi yang terjadi infrastruktur seperti gorong-gorong dan saluran air banyak yang tersumbat. Belum ada aksi nyata dari pemprov untuk membenahi gorong-gorong dan saluran air,” ujar Teguh di gedung DPR, Senayan, kemarin.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo, meski tidak terkena dampak banjir dan terjebak kemacetan Senin malam, mengaku prihatin. Meski kemacetan lalu lintas di Jakarta bukan sudah biasa, katanya, jika para anggota DPR sudah menyoroti masalah tersebut tentu kasusnya sudah tergolong istimewa.

“Seharusnya pemprov mempersiapkan sistem drainase airnya untuk kondisi tidak hanya musim panas, tapi juga untuk musim hujan,” katanya di gedung DPR, kemarin.

Sudah bekerja

Menanggapi berbagai kritikan tersebut, Fauzi menolak tudingan yang menyatakan pemprov tidak serius menangani banjir dan kemacetan lalu lintas.

Saat ditemui di sela-sela peninjauan dua drainase di samping pusat perbelanjaan Sarinah dan satu drainase di samping Gedung Jaya, Jakarta Pusat, kemarin, Fauzi mengaku tersinggung dituding sebagai penyebab utama lambannya penanganan banjir dan kemacetan.

“Itu kan urusan mereka (mengkritik), yang penting saya sudah bekerja. Ini bukti saya bekerja. Dan ini urusan saya dengan yang memilih saya,” katanya.

Fauzi pun tidak terima bila dianggap malas oleh pengamat dan dianggap enggan meneruskan sejumlah program penanganan banjir yang sudah dimulai oleh gubernur sebelumnya. Dia juga mengeluhkan pemberitaan media massa yang disebutnya terlalu membesar-besarkan. Padahal, banjir di Sarinah hanya 30 cm. “Yang menulis banjir di Sarinah 40 cm siapa? Kemarin itu (Senin malam) banjirnya cuma 30 cm,” katanya.

Fauzi mengakui, curah hujan di Jakarta Senin petang hingga malam sangat tinggi sehingga terjadi genangan di mana-mana. Dia juga menyebutkan, peristiwa serupa pernah terjadi tahun 2007, bahkan ketika itu Bandara Soekarno-Hatta juga lumpuh akibat banjir.

Karena itu, dia meminta warga Jakarta maklum dengan banjir hebat itu karena cuaca sangat ekstrem. “Saya mohon maklum kepada masyarakat untuk memahami kondisi yang luar biasa. Cuaca begitu ekstrem di luar perkiraan kita,” katanya.

Pemprov DKI, kata Fauzi, telah melakukan sejumlah upaya penanganan banjir secara maksimal, mulai dari menyelesaikan proyek Banjir Kanal Timur (BKT) hingga normalisasi saluran air. Selain itu, peralatan pengendali banjir seperti pompa air juga telah disiagakan.

Kondisi cuaca yang ekstrem mengakibatkan curah hujan mencapai 111 mm dalam waktu 2 jam. Padahal, dalam kondisi normal curah hujan dalam sebulan hanya 300 mm. Keadaan ini membuat drainase tidak mampu menampung dan menyalurkan air ke sungai dengan baik. Akibatnya, air meluap hingga ke jalan raya.

Hujan lebat

Kasubid Informasi Meteorologi Publik pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Hari Tirtidjatmiko, kemarin menjelaskan, curah hujan di kawasan Jakarta pada saat-saat ini termasuk kategori lebat dan sangat lebat. “Pada Senin kemarin intensitas hujan bervariasi. Kawasan yang hujannya sangat lebat antara lain Jakarta Barat dan Jakarta Selatan,” katanya.

Menurut Hari, hujan dihitung dengan satuan milimiter atau liter per meter persegi. Setiap angka yang muncul dari alat penghitung curah hujan (ombrometer) ada kategorinya, namun tidak ada kategori normal.

Hujan disebut ringan jika intensitasnya hanya 5 sampai 20 mm/hari, sedang jika intensitasnya 20-50 mm/hari termasuk kategori lebat. Ketika intensitas hujan mencapai 50-100 mm/hari termasuk sangat lebat. “Ukuran ini berlaku di seluruh dunia. Ada juga ukuran per jam, namun kita menghitung per hari atau selama 24 jam,” kata Hari. (nir/moe/ded/sab/get)

Sumber Content dan Gambar :

http://www.wartakota.co.id/detil/berita/31908/Kerugian-Banjir-Rp-3-Triliun