photo panlogo.png
Home Activity Bangun Citra di Dunia Maya

Tingginya penetrasi ponsel di Indonesia ternyata banyak membawa hikmah bagi mereka yang pintar memanfaatkan peluang. Simak saja polah kandidat Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) DKI Jakarta, Iqbal Farabi, dengan laman www.iqbalfarabi.com yang baru dibuat akhir Oktober lalu. “Sejak hadirnya situs ini, posisi saya yang sebelumnya nomor buncit dalam ajang perebutan menuju kursi HPMI Jaya naik menjadi posisi nomor dua.

Internet ibarat pisau bermata dua. Jika pintar menggunakannya, akan menjadi alat yang membantu mencapai tujuan,” kata Iqbal, belum lama ini. Situs yang dibuat untuk menjalin komunikasi dengan para simpatisan itu dalam sehari dikunjungi sekitar 1.500 orang. Bahkan, beberapa hari lalu pernah mencapai 15 ribu pengunjung. “Padahal, untuk menjadi ketua umum hanya membutuhkan suara sekitar 1.200.

Jika pengunjung situs ini memiliki komitmen mendukung, langkah untuk menjadi ketua tentu lebih ringan,” kata dia. Dia menjelaskan pembuatan situs untuk bersosialisasi hanya salah satu contoh bagaimana value gap dalam memanfaatkan Internet bisa ditekan. “Pemerintah harus terus menyosialisasikan perlunya ditekan kesenjangan nilai (value gap) dari penggunaan Internet sebagai alat konsumtif menjadi sumber informasi.

Saat ini, penterasi Internet di Indonesia sudah mulai tinggi. Jika akses dengan ponsel dimasukkan jumlahnya bisa mencapai 45 juta pengguna. Sayangnya, value gap masih tinggi sehingga ini bisa menimbulkan perilaku konsumtif,” jelasnya. Dia mengatakan jika masyarakat bisa diedukasi tentang manfaat lain dari Internet seperti mendorong hadirnya e-health, e-education, dan lainnya, barulah bisa diwujudkan teori penetrasi broadband bisa mendorong perekonomian.

“Situs jejaring sosial pun sebenarnya bisa dijadikan alat untuk meningkatkan perekonomian. Banyak yang berdagang atau menyosialisasikan program melalui media ini, seperti saya. Intinya, Internet jangan disederhanakan kepada masalah masuk ke dunia maya saja,” tegasnya. Iqbal mengharapkan semakin giatnya pemerintah menekan kesenjangan akses dengan mendorong operator membangun jaringan tidak melupakan tersedianya perangkat dengan harga murah.

“Kalau perangkat makin murah tentunya akses Internet bisa menembus hingga segmen bawah. Baiknya value gap ditekan bersamaan dengan kehadiran perangkat murah.” Sementara praktisi telematika Andy Zain menyarankan jika ingin mengoptimalkan pengaruh Internet, maka sang kreator harus bisa muncul dengan cita rasa lokal sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada komunitas. “Dunia Internet ini memang lebih dekat pada komunitas.

Membangun merek di dunia ini susah-susah gampang. Orang mau mengakses satu situs karena ada manfaat baginya, itu harus diingat,” kata dia. Praktisi komunikasi Djaka Winarso menilai pemanfaatan dunia maya bagi sosok publik untuk mengangkat citra diri harus berhati-hati karena bisa menjadi bumerang jika implementasi tidak sesuai dengan roh dari komunitas Internet.

“Kala pemilu tahun lalu banyak politisi bermain-main di dunia maya, tetapi itu sekadar narsis saja karena tidak paham cara berkomunikasi dengan komunitas. Akhirnya malah menjadi bumerang di mana tokoh tersebut diadili secara online oleh komunitas Internet,” tegasnya.

Menurutnya, dunia Internet memiliki keunikan dan etika sendiri sehingga bagi pihak-pihak yang ingin memanfaatkan media online untuk membangun citra diri harus berhati-hati. ”Pengguna Internet lebih kritis dan tidak bisa dibodohi. Jika satu situs hanya sekadar hadir dan tidak dikelola dengan baik, dijamin akan ditinggalkan oleh pengunjungnya.”
dni/E-5

Sumber media online : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=69234